Sabtu, 02 Mei 2020

Mengenang Tokoh Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara

Hari ini, tanggal 2 Mei 2020 yang mana tepat pada hari ini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional ini diambil dari tanggal lahir Ki Hajar Dewantara, (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia putra dari Pangeran Suryaningrat, cucu dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam III. 

Beliau menamatkan Sekolah Dasar di Europeesche Lagere School (ELS), Kemudian melanjutkan pendidikan ke School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. pada saat itu, beliau tergolong salah satu penulis paling produktif dan handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Pada waktu  pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari masyarakat, termasuk dari kaum pribumi, dimana uang sumbangan tersebut akan digunakan untuk perayaan hari kemerdekaan Belanda dari Penjajahan Perancis timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis  "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam Surat Kabar D Expres pada tahun 1913.

Isi artikel ini membuat merah kuping para pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut. 

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si Inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya". 

Karena tulisan diatas, Soewardi,bersama dua rekan dekatnya yakni dr Cipto Mangunkusumo dan Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker diasingkan ke negeri Belanda ditahun yang sama.

Setelah menjalani masa buangan selama 6 tahun di negeri Belanda, Soewardi kembali ke Jawa pada bulan September tahun 1919. Tidak lama kemudian beliau bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922 yakni Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.

Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan jawa,  berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya agar dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa jawa yang berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia sampai saat ini.

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia, Beliau  meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wiyata Brata Yogyakarta.











0 komentar:

Posting Komentar