GURU SUCI TANAH JAWI (Bagian 01)
Sunan Kalijaga mendapat gelar agung sebagai guru suci Tanah Jawi. Kocap
kacarita, Raden Mas Sahid putra kanjeng Adipati Tuban, sudah menjadi alim ulama
yang cerdik dan pandai. Bahkan beliau sudah dapat merasakan mati di dalam
hidup. Tingkatan pendakian tauhid yang sangat tinggi, dan patut diacungi
jempol. Namun beliau belum puas dengan apa yang sudah didapat. Dia mempunyai
himatulaliyyah atau cita-cita yang tinggi yaitu bertujuan ingin memperoleh
petunjuk diri seseorang yang sudah menemukan hakikat kehidupan, yang nantinya
dapat mengantarkanya agar mendapat petunjuk yang di pegang para Nabi Wali atau
Imam Hidayah.
Tekadnya semakin membaja, menyebabkan beliau melakukan perjalanan hidup yang
tidak mempedulikan dampak atau akibat apapun yang akan terjadi, nafsunya
menuntut ilmu semakin membara tak perduli samudra api menghadang. Bukankah
Rasulullah pernah bersabda, “Tuntutlah ilmu biarpun harus menyeberang samudra
api!”.
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid hatinya bimbang dan pikirannya bingung.
Siapa yang tidak bingung! Segala ilmu yang diketahui dan dipahami diamalkan
dengan penuh pengabdian kepada Allah, namun beliu merasa selalu tergoda oleh
nafsunya, dan merasa tidak mampu mengatasinya. Berbagai usaha ditempuh agar
akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi nafsunya, jangan sampai terlanjur
terlantur, hanya puas makan dan tidur. Namun tetap saja dirinya merasa hatinya
kalah perang dengan nafsunya. Akhirnya beliu pasrah kepada Allah tempat
berserah diri.
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid memohon kepada Allah Tuhan Yang Terpilih,
semoga dibukakan oleh Tuhan Pembuat Nyawa, agar istiqomah hatinya, selaras
dengan kehendak hatinya, jalan menuju sembah dan puji. Dan tiada putus-putusnya
dia berdoa, biarpun terselip kekhawatiran dosa dan kekhilafan yang pernah dilakukannya
semasa muda, mungkin tak termaafkan oleh Gusti Allah. Sekian lama beliu berdoa,
namun tak ada tanda-tanda terkabulnya doa. Akhirnya beliu mawas diri. Mengapa
petunjuk yang ditunggu-tunggu belum juga datang? Apakah caranya beribadah dan
bersyukur yang salah? Apakah yang dilakukan selama ini acak-acakan tanpa dasar
ilmu yaqin?
Ling lang ling lung, akhirnya Raden Mas Sahid diam tak mau berdoa lagi. Beliu
menyendiri dan menjauhi urusan duniawi (uzlah). Buak dari laku ini, dirasanya
masih saja ada gejolak batin, saling bertengkar dua sura dalam batinnya
sendiri, bisikan Malaikat dan bisikan Syaitan. Pertentangan suaranya tidak
lantang sebagaimana layaknya orang bertengkar, tetapi pertengkaran hebat itu
tidak kunjung berhenti! Bukankah bisikan baik dan buruk saling merebut
kemenangan? Apa sih yang diperebutkan? Padahal tidak ada yang diperebutkan!
Perang batin ini, kalau diibaratkan seperti perebutan Kerajaan Ngastina oleh
Kurawa dan Pandawa yang masih termasuk keluarga sendiri atau darah daging
sendiri!
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid menyadari laku uzlah yang dijalankannya
tak menghasilkan petunjuk yang diharapkan. Akhirnya tanpa malu-malu, karena
didesak oleh hasrat mengetahui petunjuk, beliu berusaha bertapa berlapar-lapar,
kalau ada teman datang, ikut makan dengan rakusnya, kalau temannya pergi tidak
makan seumur hidupnya, sebab tidak ada yang dimakan. Ling lang ling lung,
menuruti kesenangan memperindah diri, selalu meminta upah. Ling lang ling lung,
Raden Mas Sahid meminta upah dari laku bertapa berlapar-lapar ternyata tiada
hasil. Beliu akhirnya menyadari kebodohannya dan tersenyum sendiri. Mengapa
sampai teganya Dia menagih tak henti-hentinya kepada Allah, padahal tanpa
piutang? Gusti Allah yang ditagih wajar kalau diam saja, memang kenyataanya
tidak berhutang! Biarpun yang menagih datang dan pergi, semua itu tidak ada
bedanya, dan Allah Yang Maha Karya berhak tidak melunasi karena tidak pernah
berhutang kepada Raden Mas Sahid. Akhirnya beliu memutuskan diri untuk berguru
dengan Kanjeng Sunan Bonang, barangkali dengan itu, beliu dapat petunjuk iman
hidayah.
Mulailah Raden Mas Sahid berguru kepada seseorang yang tinggi ilmunya yang
bersunyi diri di Desa Bonang yang bergelar Kanjeng Sunan Bonang. Beliu mohon
kepada Kanjeng Sunan Bonang untuk ditunjukkan hakikat kehidupan. Syekh Malaya
disaat mulai berguru kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintah bertapa menunggu
pohon gurda dan dilarang meninggalkan tempat.
Ling lang ling lung, Syekh Malaya dapat dikatakan orang hebat, karena
keinginanya yang kuat serta tekad batinnya, tak dapat dibandingkan dengan yang
lainnya. Maklumlah beliu berdarah luhur, putra Kanjeng Adipati Tuban Wilwatikta
II bernama Raden Mas Sahid, waktu tua bergelar Sunan Kalijaga. Rupanya sudah
terlebih dahulu mendapat anugrah Kasih Sayang Gusti Allah Pencipta Nyawa yang
sudah menjadi kemulian Tuhan Yang terpilih, timbul dari kasih Sayang Allah.
Syekh Malaya berguru menuntut ilmu sudah cukup lama, namun merasa belum dapat
manfaat yang nyata, rasanya Cuma penderitaan yang didapat, sebab disuruh
memperbanyak bertapa, oleh Kanjeng Sunan Bonang, diperintah “menunggui pohon
gurda” yang berada ditengah hutan belantara dan tidak boleh meninggalkan
tempat, sudah dilaksanakan selama setahun.
Laku tapa yang kedua, disuruh “ngaluwat” yaitu ditanam di tengah hutan di dalam
goa Sorowiti Panceng Tuban. Setelah setahun mulut gua yang mulanya ditutup
dengan batu-batu, kemudia dibongkar oleh Kanjeng Sunan Bonang. Kemudian laku
tapa yang ketiga, yaitu “tarak brata di tepi sungai” selama setahun, dan tidak
boleh tidur ataupun makan, lalu ditinggal ke Mekah oleh Kanjeng Sunan Bonang.
Nyatanya sudah genap setahun, Syekh Malaya ditengok, ditemui masih tarak brata
saja, Kanjeng Sunan bonang bersabda, “wahai siswaku sudahilah tarak bratamu,
kamu mulai sekarang sudah menjadi Wali dan bergelar Sunan Kalijaga. Kamu
diangkat sebagai wali Sembilan penutup maksudnya melengkapi Wali Sanga atau
Wali Sembilan yang saat itu jumlah kurang satu wali. Tugasmu ikut menyiarkan
agama Islam dan perbaikilah ketidakaturan yang ada. Agama itu tata krama,
kesopanan untuk Kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Kau harus berpegang pada
syariat Islam, serta segala ketentuan iman hidayah. Hidayah itu dari Gusti
Allah Yang Maha Agung, yang sangat besar kanugrahan-Nya menumbuhkan kekuatan luar
biasa dan keberanian, serta meliputi segala kebutuhan perang, yang demian itu
tidak lain adalah anugrah yang besar, paling utama dari segala yang utama
(keutamaan). Keutamaan ibarat bayi, siapapun ingn memelihara, yang mencukupi
bayi, menguasai pula terhadap dirimu, tapi kamu tak punya hak menentukan,
karena kau ini juga yang menentukan Gusti Allah Yang Maha Agung, karena itu
mantapkanlah hatimu dalam pasrah diri pada-Nya”.
MERASAKAN HIDAYAH IMAN (Bagian 02)
Syekh Malaya berkata lemah lembut
kepada Kanjeng Sunan Bonang, “sungguh hamba sangat bermatur nuwun, semua
nasihat akan kami junjung tinggi, tapi hamba memohon pada guru, mohon agar
sekalian dijelaskan, tentang maksud sebenarnya dari sukma luhur atau ruh yang
berderajat tinggi, yang sering disebut iman hidayah. Hamba harus mantap
berserah diri kepada Gusti Allah, bagaimanakah cara melaksanakan dengan
sebenar-benarnya? Hamba mohon penjelasan yang sejelas-jelasnya. Kalau hanya
sekedar ucapan semata hamba pun mampu mengucapkannya. Hamba takut kalau menemui
kesalahan dalam berserah diri, karena menjadikan hamba ibarat asap belaka,
tanpa guna menjalankan semua yang kukerjakan.
Kanjeng Sunan Bonang menjawab lembut, “Syekh Malaya benar ucapanmu, pada saat
bertapa kau bertemu denganku, yang dimaksud berserah diri ialah selalu ingat
perilaku atau pekerjaan, seperti ketika awal mula diciptakan, bukankah itu sama
halnya seperti asap? Itu tadi seperti hidayah wening atau petunjuk yang jernih,
serupa dengan iman hidayah, apakah itu nampak dengan sebenarnya? Namun
ketahuilah semua tidak dapat diduga sebelum mempunyai kepandaian untuk
meraihnya, kejelasan tentang hidayah, hanya keterangan yang saya percayai,
karena keterangan itu berasal dari sabda Gusti Allah”.
Berkata Kanjeng Sunan Kalijaga, “ Kanjeng Rama Guru yang bijaksana, hamba mohon
dijelaskan, apakah maksudnya, ada nama tanpa sifat, ada sifat tanpa nama? Saya
mohon petunjuk, tinggal itu yang saya tanyakan yang terakhir kali ini saja”.
Kanjeng Sunan Bonang bersabda lemah lembut, “Kalau kamu ingin keterangan yang
jelas tuntas, matikanlah dirimu sendiri, belajarlah kamu tentang mati, selagi
kau masih hidup. Caranya bersepi dirilah kamu ke hutan rimba, dan jangan sampai
ketahuan manusia”.
Sudah habis
segala penjelasan yang disampaikan Kanjeng Sunan Bonang segera meninggalkan
tempat, dari hadapan Sunan Kalijaga, timur laut arah langkah yang dituju.
Kira-kira baru beberapa langkah berlalu, Syekh Malaya ikut meninggalkan tempat
itu, masuk kehutan belantara.
Raden Mas Sahid menjalankan laku kidang, berbaur dengan kidang menjangan,
segala gerak laku kidang ditirunya, kecuali bila ingin tidur, ia mengikuti cara
tidur berbalik, tidak seperti tidurnya kidang. Kalau pergi mencari makan
mengikuti seperti caranya anak kidang. Bila ada manusia yang mengetahui, para
kidang berlari tunggal langgang, Sunan Kalijaga juga ikut berlari kencang
jangan sampai ketahuan manusia. Larinya dengan merangkak, seperti larinya
kidang, pontang panting jangan sampai ketinggalan, mengikuti sepak terjang
kidang.
Nyata sudah cukup setahun, Syekh Malaya menjalani laku kidang, bahkan melebihi
yang telah ditetapkan, ketika itu Kanjeng Sunan Bonang, bermaksud sholat ke
Mekah, dalam sekejap mata sudah sampai, setelah sholat segera datang kembali.
Kanjeng Sunan Bonang menuju hutan untuk memberi tahu Syekh Malaya bahwa laku
kidangnya telah selesai. Sesampai di dalam hutan ia melihat kidang sama
berlari, sedang anaknya sempoyongan mengikuti. Sunan Bonang ingat dalam hati,
kalau Wali Syekh Malaya berlaku seperti anak kidang, segera ia mendekati
gerombolan kidang, barangkali di sana ditemukan Syekh Malaya.
Syekh Malaya yang kebutulan sedang berlaku meniru kidang tahu akan didekati
gurunya. Beliu ingat pesan gurunya, bahwa dirinya tidak boleh diketahui
manusia, gurunya juga manusia maka ia harus menghidari jangan sampai didekati
manusia biarpun oleh gurunya, larinya tunggang langgang, tanpa memperhitungkan
jurang tebing, ditubruk tidak tertangkap, dijaring dan diberi jerat, kalau kena
jerat dapat lolos, kalau kena jaring dapat melompat.
Marahlah sang guru Kanjeng Sunan Bonang, bersumpah dalam hatinya, “Wali wadat
pun aku tak peduli, memanaskan hati kau kidang, bagiku memegang angin yang
lebih lembut saja tidak penar lolos, yang kasar akan lebih mudah ditangkap
mustahil akan gagal! Kalau tidak berhasil sekali ini, lebih baik aku tidak usah
menjadi manusia, lebih pantas kalau jadi binatang saja!”.
Kanjeng Sunan Bonang bergerak dengan penuh amarah. Beliu berusaha menciptakan
nasi tiga kepal atau genggam. Dalam sekejap tangannya telah siap nasi 3
genggam, segera ia mundur ancang-ancang siap mengejar Kidang Syekh Malaya untuk
melemparkanya. Kanjeng Sunan Bonang segera menerobos ke dalam hutan yang lebih
lebat dan sulit dilewati, setelah benar-benar menemukan yang sedang laku
kidang, tengah berlari. Segera dilemparnya dengan nasi satu kepal, tepat
mengenai punggungnya.
Syekh Malaya agak lambat larinya terkena lemparan nasi sekepal. Lalu lemparan
yang kedua, mengenai lambungnya, jatuh terduduk Syekh Malaya kemudian dilempar
lagi, nasi satu kepal, Syekh Malaya ingat dan sadar kemudia berbakti pada
Kanjeng Sunan Bonang.
Syekh
Malaya berlutut hormat mencium kaki Kanjeng Sunan Bonang. Berkata sang guru
Kangjeng Sunan Bonang “Anakku ketahuilah olehmu, bila kau ingin mendapat
kepandaian, yang bersifat hidayatullah, naiklah haji, menuju Mekah dengan hati
tulus suci dan ikhlas. Ambillah air zam-zam ke Mekah, itu adalah air yang suci,
serta sekaligus mengaharapkan berkah syafaat, Kanjeng Nabi Muhammad yang
menjadi suri tauladan manusia”. Syekh Malaya berbakti, mencium kaki gurunya dan
mohon diri untuk melaksanakan tugas yaitu segera menuju Mekah. Kanjeng Sunan
Bonang lebih dahulu melangkahkan kaki menuju desa Bonang Tuban yang sepi.
NAIK HAJI KE MEKAH (Bagian 03)
Syekh Malaya menerobos hutan, naik gunung, turun jurang, tetebingan di dakinya
memutar, melintasi jurang dan tanjakan. Tanpa terasa perjalanannya telah sampai
di tepi pantai. Hatinya bingung, kesulitan menempuh jalan selanjutnya karena
terhalang oleh samudera luas, sejauh memandang tampak air semata. Dia diam
tercenung lama sekali di tepi samudera memutar otak mencari jalan yang
sebaiknya ditempuh.
Kocap
kacarita tersebutlah seorang manusia, yang bernama Sang Mahyuningrat,
mengetahui kedatangan seorang yang tengah bingung yaitu Syekh Malaya. Sang
Mahyuningrat tahu segala perjalanan yang dialami oleh Syekh Malaya dengan
sejuta keprihatinan karena ingin meraih iman hidayah. Berbagai cara telah
ditempuh, juga melalui penghayatan kejiwaan dan berusaha mengungkap berbagai
rahasia yang tersembunyi, namun mustahil dapat menemukan hidayah, kecuali kalau
mendapatkan kanugrahan Allah yang haq.
Syekh Malaya ternyata sudah terjun merenangi samudra luas, dan tidak
mempedulikan nasib jiwanya sendiri. Semakin lama Syekh Malaya sudah hampir
sampai tengah samudra, mengikuti jalan untuk mencapai hakikat yang tertinggi
dari Allah, tidak sampai lama, sampailah di tengah samudra. Beliu kehabisan
tenaga untuk merenangi samudra menuju Mekah. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada
ia berusaha mempertahankan diri jangan sampai tenggelam di dasar laut. Yang
tampak kini. Syekh Malaya timbul-tenggelam di permukaan laut berjuang
menyelamatkan nyawanya.
Ternyata disaat Syekh Malaya dalam keadaan yang kritis itu berjuang antara
hidup dan mati, tiba-tiba penglihatannya melihat seseorang yang sedang berjalan
di atas air dengan tenangnya, yang tidak dari mana datangnya. Seketika itu
pula, tahu-tahu Syekh Malaya sudah dapat duduk tenang diatas air.
Orang yang mendekati Syekh Malaya tidak lain adalah Kanjeng nabi Khidir yang
menyapa Syekh Malaya dengan lemah lembut, “Syekh Malaya apakah tujuanmu
mendatangi tempat ini? Apakah yang kau harapkan? Ketahuilah di sini tidak ada
apa-apa! Tidak ada yang ditemubuktikan, apalagi untuk dimakan dan berpakaian pun
tidak ada. Yang ada hanyalah daun kering yang tertiup yang jatuh di depanku,
itu yang saya makan, kalau tidak ada tentu tidak makan. Senangkah kamu melihat
kenyataan semua itu?”.
Sunan
Kalijaga heran mengetahui penjelasan ini. Kanjeng Nabi Khidir berkata lagi
kepada Sunan Kalijaga, “Cucuku, di sini ini banyak bahayanya, kalau tidak
mati-matian berani bertaruh nyawa, tentu tidak mungkin sampai di sini. Di
tempat ini segalanya tidak ada yang dapat diharapkan hasilnya. Mengandalkan
pikiranmu saja belum apa-apa, biarpun kamu tidak takut mati. Kutegaskan sekali
lagi, di sini kau tidak mungkin mendapat apa yang kau maksudkan!”.
Syekh Malaya bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat, dia menjawab
pertanyaan Kanjeng Nabi Khidir, bahwa dia tidak mengetahui akan langkah yang
sebaiknya perlu ditempuh setelah ini. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya
kemudian! “Syekh Malaya pasrah diri kepada Kanjeng Nabi Khidir , katanya terasa
memilukan”. Sang guru Kanjeng Nabi Khidir menebak, “Apakah kamu juga sangat
mengharapkan hidayatullah Allah?”.
Akhirnya Kanjeng Nabi Khidir menjelaskan, “ikutilah petunjukku sekarang ini!”
“Kamu telah berusaha menjalankan petunjuk gurumu kanjeng Sunan Bonang yang
menyuruhmu menuju kota Mekah, dengan keperluan naik haji. Maka ketahuilah
olehmu, makna tugas itu yaitu : sungguh sulit menjalankan lika-liku kehidupan
ini”. “Jangan pergi kalau belum tahu yang kau tuju dan jangan makan kalau belum
tahu rasanya yang dimakan, jangan berpakaian kalau belum tahu kegunaan
berpakaian. Lebih jelasnya tanyalah sesama manusia sekaligus dengan
persamaannya, kalau sudah jelas amalkanlah!”.
“Demikianlah seharusnya hidup itu, ibarat ada orang dari gunung, akan membeli
emas, oleh tukang emas biarpun diberi kuningan tetap dianggap emas mulia.
Demikianlah pula dengan orang berbakti, bila belum yakin benar, pada siapakah
yang harus disembah?” Syekh Malaya ketika mendengar itu, spontan duduk berlutut
mohon belas kasihan, setelah mendapati kenyataan Kanjeng Nabi Khidir
betul-betul serba tahu yang tersimpan di hatinya. Dengan duduk bersila dia
berkata, “Yang kami dengar akan kami laksanakan apa pun jadinya nanti. “Syekh
Malaya meminta kasih sayang, memohon keterangan yang jelas’, siapakah nama
tuan? Mengapa di sini sendirian? Sang Mahyuningrat menjawab, “sesungguhnya saya
ini Kanjeng Nabi Khidir”.
Syekh Malaya berkata, “saya menghaturkan hormat sedalam-dalamnya kepada tuan
junjunganku dan mohon petunjuk serta perlu dikasihani, saya juga tidak tahu
benar tidaknya pengabdianku ini. Tidak lebih bedanya dengan hewan di hutan,
itupun masih tidak seberapa, bila mau menyelidiki kesucian diriku ini. Dapat
dikatakan lebih bodoh dan dungu serta tercela ibarat keris tanpa kerangka dan
ibarat bacaan tanpa isi tersirat”.
Maka berkata dengan manisnya Sang Kanjeng Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga.
“Jika kamu berkehendak naik haji ke Mekah, kamu harus tahu tujuan yang
sebenarnya menuju ke Mekah itu. Ketahuilah mekah itu hanya tapak tilas saja!
Yaitu bekas tempat tinggal Nabi Ibrahim zaman dahulu. Beliulah yang membangun
Ka’bah Masjidil Haram serta yang menghiasi Ka’bah itu dengan benda yang berupa
batu hitam (Hajar Aswad) yang tergantung didinding Ka’bah tanpa digantungkan.
Apakah Ka’bah itu yang hendak kamu sembah? Kalau itu yang menjadi niatmu,
berarti kamu sama halnya menyembah berhala atau bangunan yang dibuat dari batu.
Perbuatanmu itu tidak jauh berbeda dengan yang diperbuat oleh orang kafir,
karena hanya sekedar menduga-duga saja wujud Allah yang disembah, dengan
senantiasa menghadap kepada berhalanya. Oleh karenanya itu, biarpun kamu sudah
naik haji, bila belum tahu tujuanya yang sebenernya dari ibadah haji tentu kamu
akan rugi besar. Maka dari itu, ketahuilah bahwa Ka’bah yang sedang kau tuju
itu, bukannya yang terbuat dari tanah atau kayu apalagi batu, tetapi Ka’bah
yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya Ka’bahtullah (Ka’bah Allah). Demikian
itu sesunggunya iman hidayah yang harus kamu yakinkan dalam hati”.
Kanjeng Nabi Khidir memerintah, “Syekh Malaya segeralah kemari secepatnya!
Masuk ke dalam tubuhku!” Syekh Malaya terhenyak hatinya tak dapat dicegah lagi,
keluarlah tawanya, bahkan sampai mengeluarkan air mata seraya berkata halu.
“Melalui jalan manakah harus masuk ke dalam tubuhmu, padahal saya tinggi besar
melebihi tubuhmu, kira-kira cukupkah? Melalui jalan manakah usaha saya untuk
masuk? Padahal nampak olehku buntu semua?
Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lemah lembut. “Besarmana kamu dengan bumi,
semua ini beserta isinya, hutan rimba dan samudera serta gunung tidak bakal
penuh bila dimasukkan kedalam tubuhku, jangan khawatir bila tak cukup masuklah
di dalam tubuhku ini. Syekh Malaya setelah mendengarnya semakin takut sekali
dan bersedia melaksanakan tugas memasuki badan Kanjeng Nabi Khidir, namun
bingung tak tahu cara melaksanakannya. Menolehlah Kanjeng Nabi Khidir, ini
jalan di telingaku ini”.
MUTIARA ILMU SYARIAT (Bagian 04)
Syekh
Malaya masuk dengan segera melalui telinga Kanjeng Nabi Khidir. Sesampainya di
dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat samudera luas tiada
bertepi sejauh mata memandang, semakin diamati semakin jauh tampaknya. Kanjeng
Nabi Khidir bertanya keras-keras, “hai apa yang kamu lihat?”
Syekh Malaya segera menjawab, “Angkasa Raya yang kuamati, kosong melompong jauh
tidak kelihatan apa-apa, kemana kakiku melangkah, tidak tahu arah utara selatan
barat timur pun tidak kami kenal lagi, bawah dan atas serta muka belakan, tidak
mampu saya bedakan. Bahkan semakin membingungkanku”.
Kanjeng Nabi Khidir berkata lemah-lembut, “usahakan jangan sampai bingung
hatimu”. Tiba-tiba Syekh Malaya melihat suasana terang benderang. Dihadapannya
nampak Kanjeng Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat Kanjeng Nabi Khidir malayang
di udara kelihatan memancarkan cahaya gemerlapan. Saat itu Syekh Malaya melihat
arah utara selatan, barat dan timur sudah kelihatan jelas, atas serta bawah
juga sudah terlihat dan mampu menjaring matahari, tenang rasanya sebab melihat
Kanjeng Nabi Khidir, rasanya berada di alam yang lain dari yang lain.
Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut, “jangan berjalan hanya sekedar berjalan,
lihatlah dengan sungguh-sungguh apa yang terlihat olehmu”. Syekh Malaya
menjawad, “Ada warna empat macam yang nampak padaku semua itu sudah tidak
kelihatan lagi, hanya empat macam yang kuingat yaitu hitam merah kuning dan
putih”.
Berkata Kanjeng Nabi Khidir, “yang pertama kau lihat cahaya mencorong tapi
tidak tahu namanya ketahuilah itu adalah pancamaya, yang sebenarnya ada di
dalam dirimu sendiri yang mengatur dirimu. Pancamaya yang indah itu disebut
mukasyafah, bila mana kamu mampu membimbing dirimu ke dalam sifat terpuji,
yaitu sifat yang asli. Maka dari itu jangan asal bertindak, selidikilah semua
bentuk jangan sampai tertipu nafsu. Usahakan semaksimal mungkin agar hatimu
menduduki sifat asli, perhatikan terus hatimu itu, supaya tetap dalam jati
diri!” Tentramlah hati Syekh Malaya, setelah mengerti itu semua dan baru mantap
rasa hatinya serta gembira.
Kanjeng Nabi Khidir melanjutkan penjelasannya, “adapun yang kuning, merah,
hitam serta putih itu adalah penghalanya. Sebab isinya dunia ini sudah lengkap,
yaitu terbagi kedalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku,
kalau mampu menjauhi itu pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang
menghalangi meningkatkan citra diri. Hati yang tiga macam yaitu hitam, merah
dan kuning, semua itu menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya.
Maksudnya akan menghalangi menyatunya hamba dengan Tuhan yang membuat nyawa
lagi mulia. Jika tidak tercampur oleh tiga hal itu, tentu terjadi hilangnya
jiwa, maksudnya orang akan mencapai tingkatan Maqom Fana dan akan masuk Maqom
Baqo atau abadi. Maksudnya senantiasa berdekatan rapat dengan Sang Pencipta.
Namun yang perlu diperhatikan dan diingat dengan seksama, bahwa penghalang yang
ada dalam dihati, mempunyai kelebihan yang perlu kamu ketahui dan sekaligus
sumber inti kekuatannya. Yang hitam lebih perkasa, pekerjaanya marah, mudah
sakit hati, angkara murka secara membabi buta. Itulah hati yang menghalangi,
menutup kepada kebajikan.
Sedangkan yang berwarna merah, ikut menunjukkan nafsu yang tidak baik, segala
keinginan nafsu keluar dari si merah, mudah emosi dalam mencapai tujuan, hingga
menutup kepada hati yang sudah jernih tenang menuju akhir hidup yang baik
(khusnul khatimah). Adapun yang berwarna kuning, kemampuannya menghalangi
segala hal, pikiran yang baik maupun pekerjaan yang baik. Hati kuninglah yang
menghalangi timbulnya pikiran yang baik hanya membuat kerusakan, menelantarkan
ke jurang kehancuran. Sedangkan yang putih itulah yang sebenarnya, membuat hati
tenang serta suci tanpa ini itu, pahlawan dalam kedamaian”.
Kanjeng Nabi Khidir memberi kesempatan bagi Syekh Malaya untuk merenungkan
penjelasannya tadi. Selanjutnya beliu berkata, “hanya itulah yang dapat
dirasakan manusia akan kesaksiannya. Sesungguhnya yang terwujud adanya, hanya
menerima anugrah semata-mata dan hanya itulah yang dapat dilaksanakan. Kalau
kamu tetap berusaha agar abadi berkumpulnya diri dekat Tuhan, maka
senantiasalah menghadapi tiga musuh yang sangat kejam, besar dan tinggi hati
(bohong). Ketiga musuhmu saling kerjasama, padahal si putih tanpa teman, hanya
sendirian saja, makanya sering dapat dikalahkan. Kalau sekiranya dapat
mengatasi akan segala kesukaran yang timbul dari tiga penghala itu, maka
terjadilah persatuan erat wujud, tanpa berpedoman itu semua tidak akan terjadi
persatuan erat antara manusia dan Penciptanya”. Syekh Malaya sudah memahaminya,
dengan semangat mulai berusaha disertai tekad membaja demi mendapatkan pedoman
akhir kehidupan, demi kesempurnaan dekatnya dengan Allah SWT.
Kanjeng Nabi Khidir kembali melanjutkan wejanganya, “Setelah hilang empat macam
warna ada hal lain lagi nyala satu delapan warnanya”. Syekh Malaya berkata,
“Apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah namanya, nyala satu
delapan warnanya, apakah yang dimaksud sebenarnya? Nyalanya semakin jelas
nyata, ada yang tampak berubah-ubah warna menyambar-nyambar, ada yang seperti
permata yang berkilau tajam sinarnya”.
Sang Kanjeng Nabi Khidir berpesan, “Nah, itulah sesungguhnya tunggal. Pada
dirmu sendiri sudah tercakup makna di dalamnya, rahasianya terdapat pada dirimu
juga, serta seluruh isi bumi tergambar pada tubuhmu dan juga seluruh alam
semesta. Dunia kecil tidak jauh berbeda. Ringkasnya, utara, barat, selatan,
timur, atas serta bawah. Juga warna hitam, merah, kuning dan putih itulah isi
kehidupan dunia. Didunia kecil dan alam semesta, dapat dikatakan semua isinya.
Kalau ditimbang dengan yang ada dalam dirimu dalam dirimu ini, kalau hilang
warna yang ada, dunia kelihatan kosong kesulitannya tidak ada, dikumpulkan
kepada wujud rupa yang satu, tidak lelaki tidak pula perempuan. Sama pula
dengan bentuk yang ada ini, yang bila dilihat berubah-ubah putih. Camkanlah
dengan cermat semua itu”. Syekh Malaya mengamati, “yang seperti cahaya
berganti-ganti kuning, cahayanya terang benderang memancar, melingkar mirip
pelangi, apakah itu yang dimaksudkan wujud dari Dzat yang dicari dan
didambakan? Yang merupakan hakikat wujud sejati?”
Kanjeng Nabi Khidir menjawab dengan lemah lembut, “itu bukan yang kau dambakan,
yang dapat menguasai segala keaadaan. Yang kamu dambakan tidak dapat kamu
lihat, tiada bentuk apalagi berwarna, tidak berwujud garis, tidak dapat
ditangkap mata, juga tidak bertempat tinggal hanya dapat dirasakan oleh orang
yang awas mata hatinya, hanya berupa pengambaran-pengambaran (simbol) yang
memenuhi jagad raya, dipegang tidak dapat. Bila itu yang kamu lihat, yang
nampak seperti berubah-ubah putih, yang terang benderang sinarnya, memancarkan
sinar yang menyala-nyala. Sang Permana itulah sebutannya.
Hidupnya ada pada dirimu. Permana itu menyatu pada dirmu sendiri, tetapi tidak
merasakan suka dan duka, tempat tinggalnya pada ragamu. Tidak ikut suka dan
duka, juga tidak ikut sakit dan menderita jika Sang Permana meninggalkan
tempatnya, raga menjadi tak berdaya dan pastilah lemahlah seluruh badanmu,
sebab itulah letak kekuatannya, ikut merasakan kehidupan, yang mengerti rahasia
di dunia. Dan itulah yang sedang mengenai pada dirimu, seperti diibaratkan pula
pada hewan, yang tumbuh di sekitar raga.
Hidupnya karena adanya Permana, dihidupi oleh nyawa yang mempunyai kelebihan,
mengusai seluruh badan. Permana itu bila mati ikut menggung, namun bila telah
hilang nyawanya kemudian yang hidup hanya sukma atau nyawa yang ada. Kehilangan
itulah yang didapatkan, kehidupan nyawalah yang sesungguhnya, yang sudah
berlalu diibaratkan seperti rasanya pohon yang tidak berbuah, sang Permana yang
mengetahui dengan sadar, sesungguhnya satu asal.
Menjawablah Syekh Malaya, “Kalau begitu manakah warna bentuk sebenarnya?”
kanjeng Nabi Khidir berkata, “Hal itu tidak dapat kamu pahami di dalam keadaan
nyata semata-mata, tidak semudah itu untuk mendapatkannya”, Syekh Malaya
menyela pembicaraan< “Saya mohon pelajaran lagi, sampai saya paham betul,
sampai putus. Saya menyerahkan hidup dan mati, demi mengharapkan tujuan yang
pasti, jangan sampai tanpa hasil”.
Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut dan manis yang isinya bercampur perlambang
dan sindiran, “Misalnya ada orang membicarakan sesuatu hal, lotnya seharusnya
baik, nyatanya lotnya justru merupakan bumbunya yang bercampur dengan rahasia
yang terasa sebagai jiwa suci. Nubuwah yang penuh rahasia itu sebenarnya
rahasia ini. Yaitu ketika masih berada di sifat jamal ialah jauhar awal. Bila
sudah keluar menjadi jauhar akhir yang sudah dewasa, yang awal itulah rahasia
sejati. Si jauhar akhir itu ternyata dalam satu wujud, satu mati dan satu hidup
dengan jauhar, ketika dalam kesatuan satu wujud, satu raksa, satu hidup menyatu
dalam keadaan sehidup-semati. Segala ulah jauhar akhir selamanya bersikap
pasrah, sedangkan jauhar batin ini ialah yang dipuji dan disembah hanyalah
Allah yang sejati. Tidak ada sama sekali rasa sakit karena sebenarnya kamu ini
nukad ghaib. Nukad ghaib ialah ketika di masa awal atau kuna, ia tidak hidup
juga tidak mati. Sebenarnya yang dikatakan nukad itu, tidak lain ghaib jugalah
namanya itu. Setelah datangnya nukad itu, yang sudah hidup sejak dulu, dicipta
menjadi Alif. Alif itu sendiri jisim latif. Dan keberadaanmu yang sebenarnya
itulah yang disebut atau dinamakan neqdu”.
Sambil menghela nafas Kanjeng Nabi Khidir berkata pelan, “Sekarang jauhar
sejati, yaitu namamu itu semasa hidup ialah syahadat jati. Dalam hidup dan
kehidupanmu disebut juga darah hidup. Darah hidup itu sendiri ialah yang
dinamakan Rasulullah rasa sejati. Syahadat jati adalah darah, tempat segala
Dzat atau makhluk merasakan rasa yang sebenarnya tentang hidup dan kehidupan.
Yang sama dengan satuan Jibril-Muhammad-Allah. Sedangkan keempatnya adalah yang
disebut darah hidup. Jelasnya coba perhatikan orang mati! Apa darahnya? Darah
itu kini hilang, hilangnya bersama atau menyatu dengan sukma. Sukma atau ruh
hilang dan kembali pada Alif itu disebut Ruh Idhafi. Pengertian jisim Latif
ialah Jisim Angling yang sudah ada terdahulu kala yaitu Alif yang disebut
Angling. Padahal alif itu tanpa mata, tidak berkata-kata dan tidak mendengar,
tanpa perilaku dan tidak melihat. Dan itulah Alif, yang artinya, menjadi Alif
itu karena dijabarkan atau dikembangkang. Bukankah ruh Idhafi itu bagian
Dzatullah”?.
Setelah mengajarkan semua pelajaran sampai selesai, tentang Ruh Idhafi yang
menjadi inti pembahasannya. Kanjeng Nabi Khidir berkata, “Adapun wujud
sesungguhnya alif itu, asal muasalnya berasal dari jauhar alif itu. Yang
dinamakan Kalam Karsa. Timbullah hasrat kehendak Allah untuk menjadikan
terwujudnya dirimu. Dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah
dengan sesungguhnya. Allah tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang
mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu
tidak akan membanggakan dirinya sendiri! Adapu sifat jamal (sifat yang bagus)
itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan bahwa pada dasarnya adanya
dirinya itu, karena adanya yang mewujudkan keberadannya”.
Kanjeng
Nabi Khidir menandaskan penjelsannya, “Demikianlah yang difirmankan Allah
kepada Nabi Muhammad yang menjadi kekasih-Nya, bunyi firman-Nya sebagai berikut
: kalau tidak ada dirimu, Saya (Allah) tidak akan dikenal atau disebut. Hanya
dengan sebab adanya kamulah yang menyebut akan keberadaan-Ku. Sehingga
kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya Aku (Allah), menjadikan ada
dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya wujud Dzat-Ku.
Dan untuk menjelaskan jati dirmu, tidakkah kau sadari, bahwa hampir ada
persamaan Asma-Ku yang baik (Asmaul Husna) dengan sebutan manusia yang baik itu
semua kau maksudkan untuk memudahkan pengambaran perwujudan tentang Diri-Ku.
Padahal kau tahu, Aku berada dengan dirimu, yang tak mungkin dapat disamakan
satu sama lain. Dan kamu pasti mengalami dan tidak mungkin dapat melukiskan
atau menyebutkan Asma-Ku dengan setepat-tepatnya. Namamu yang baik dapat
menyerupai nama-Ku yang baik (Asmaul Husna)”. Selanjutnya Kanjeng Nabi Khidir
bertanya, “Apakah kamu sudah dapat meraih sebutan nama yang baik itu? Baik di
dunia maupun di akhirat? Kamu ini merupakan penerus atau pewaris Muhammad
Rasulullah, sekaligus Nabi Allah. Ya Illahi, ya Allah ya Tuhanku……”.
Kanjeng Nabi Khidir mengakhiri pembacaan Firman Allah SWT, kemudian melanjutkan
memberi penjelasan pada Sunan Kalijaga, “Tanda-tanda adanya Allah itu, ada pada
dirimu sendiri harap direnungkan dan diingat betul. Asal mula Alif itu akan
menjadikan dirimu bersusah-payah selagi hidup, Budi Jati sebutannya. Yang tidak
terasa, menimbulkan budi atau usaha untuk mengatasi lika-liku kehidupan. Bagi
orang yang senang membicarakan dan memuji dirinya sendiri, akan dapat
melemahkan semangat usahanya, antara tidak dan ya, penuh dengan kebimbangan.
Sedang yang dimaksudkan dengan jauhar budi (mutiara budi) ialah, bila sudah
mengetahui maksud dan budi iman yaitu menjalankan segala tingkah laku dengan
didasari keimanan kepada Allah. Alif tercipka karena sudah menjadi ketentuan
yang sudah digariskan. Sesungguhnya Alif itu, tetap kelihatan apa adanya dan
tidak dapat berubah. Itulah yang disebur Alif. Adapun bila terjadi perubahan,
itulah yang disebut Alif Adi, yang menyesuaikan diri dengan keadaanmu Mutiara
awal kehidupan (jauhar awal) dimaksudkan dengan kehidupan tempo dulu yang
betul-betul terjadisebagaimana tinja junub dan jinabat. Jauhar awal ibarat
bebauan atau aroma akan tiba saatnya, tidak boleh tidak akan kita laksanakan
dan rasakan di dalam kehidupan kita didunia. Jelasnya, kehidupan yang telah
digariskan sebelumnya oleh jauhar itu, telah memuat garis hidup dan mati kita.
Segalanya telah ditentukan di dalam jauhar awal.
Dari keterangan tentang jauhar awal tadi, tentu akan menimbulkan pertanyaan,
diantaranya, mengapa kamu wajib shalat di dalam dunia ini? Penjelasannya
demikian : Asal mula diwajibkan menjalankan shalat itu ialah disesuaikan dengan
ketentuan di zaman azali, kegaiban yang kau rasakan, bukankah juga berdiri
tegak, bersidakep mencipkatakan keheningan hati, bersidekep menyatukan
konsentrasi, menyatukan segala gerakmu? Ucapanmu juga kau satukan, akhirnya kau
rukuk tunduk kepada yang menciptakanmu. Merasa sedih karena malu, sehingga
menimbulkan keluar air matamu yang jernih, sehingga tenanglah segala kehidupan
ruhmu. Rahasia iman dapat kau resapi. Setelah merasakan semua itu, mengapa
harus sujud ke bumi? Pangkal mula dikerjakan sujud bermula adanya cahaya yang
memberi pertanda pentingnya sujud. Yaitu merasa berhadapan dengan wujud Allah,
biarpun tidak dapat melihat Allah sesungguhnya, dan yakin bahwa Allah melihat
segala gerak kita (pelajaran tentang ikhsan). Dengan adanya agama Islam yang
dimaksudkan, agar makhluk yang ada di bumi dan di langit termasuk dirimu itu,
beribadah sujud kepada Allah dengan hati yang ikhlas sampai kepala diletakkan
di muka bumi, sehingga bumi dengan segala keindahannya tidak tampak
dihadapanmu, hatimu hanya ingat Allah semata-mata. Ya demikianlah seharusnya
perasaanmu, senantiasa merasa sujud dimuka bumi ini. Mengapa pula menjalankan
duduk diam seakan-akan menunggu sesuatu? Melambungkan pengosongan diri dengan
harapan ketemu Allah. Padahal sebenarnya itu tidak dapat mempertemukan dengan
Allah. Allah yang kau sembah itu betul-betul ada. Dan hanya Allah-lah tempat
kamu mengabdikan diri dengan sesungguhnya.
Dan janganlah sekali-kali dirimu menganggap sebagai Allah. Dan dirimu jangan
pula menganggap sebagai Nabi Muhammad. Untuk menemukan rahasia (rahsa) yang
sebenarnya herus jeli, sebab antara rahasia yang satu berbeda dengan rahasia
yang lain. Dari Allah-lah Nabi Muhammad mengetahui segala rahasia yang
tersembunyi. Nabi Muhammad sebagai makhluk yang dimuliakan Allah. Beliu sering
menjalankan puasa. Dan akan dimuliakan makhluk-Nya, kalau mau mengeluarkan
shodagoh. Dimuliakan makhluk-Nya bagi yang dapat naik haji. Dan makhluk-Nya
akan dimuliakan, kalau melakukan ibadah shalat”.
Kanjeng Nabi Khidir berhenti sejenak, lalu berkata “matahari berbeda dengan
bulan, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkannya. Sudahkah hidayah
iman terasa dalam dirimu? Tauhid adalah pengetahuan penting untuk menyembah
pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang
terlihat, ya ru’yat (melihat dengan mata telanjang) sebagai saksi adanya yang
terlihat dengan nyata.
Maka dari itu kita dalami sifat dari Allah, sifat Allah yang sesungguhnya, Yang
Asli, asli dari Allah. Sesungguhnya Allah itu, allah yang hidup. Segala afalnya
(perbuatanya) adalah berasal dari Allah. Itulah yang dimaksud dengan ru’yati.
Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khairat
(kebajikan hidup). Makrifat itu hanya ada di dunia. Jauhar awal khairat
(mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan. Untuk itu secara
tidak langsung sudah kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang
sempurna). Insan Kamil (manusia yang sempurna) berasal dari Dzatullah (Dzatnya
Allah). Sesungguhnya ketentuan ghaib yang tersurat, adalah kehendak Dzat yang
sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat Allah. Dinamakan Insan Kamil kalau
mengetahui keberadaan Allah itu. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuked
ghaib insan kamil, itu bukan berarti tidak tersurat. Ya, itulah yang dinamakan
puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan
kehidupan nyawamu semakin baik. Serta badannya, akan disebut badan Muhammad,
yang mendapat kesempurnaan hidup”.
Syekh Malaya berkata lemah lembut, “mengapa sampai ada orang mati yang
dimasukkan neraka? Mohon penjelasan yang sebenarnya”.
Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan tersenyum manis, “Wahai Malaya! Maksudnya
begini. Neraka jasmani juga berada di dalam dirimu sendiri, dan yang
diperuntukkan bagi siapa saya yang belum mengenal dan meniru laku Nabiyullah.
Hanya ruh yang tidak mati. Hidupnya ruh jasmani itu sama dengan sifat hewan,
maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Juga yang mengikuti bujuk rayu iblis,
atau yang mengikuti nafsu yang merajalela seenaknya tanpa terkendali, tidak
mengikuti petunjuk Gusti Allah SWT. Mengandalkan ilmu saja, tanpa memperdulikan
sesama manusia keturunan Nabi Adam, itu disebut iman tadlot. Ketahuilah bahwa
umat manusia itu termasuk badan jasmanimu. Pengetahuan tanpa guru itu, ibarat
orang menyembah tanpa mengetahui yang disembah. Dapat menjadi kafir tanpa
diketahui, karena yang disembah kayu dan batu, tidak mengerti apa hukumnya,
itulah kafir yang bakal masuk neraka jahanam.
Adapun yang dimaksudkan Rud Idhafi adalah sesuatu yang kelak tetap kekal sampai
akhir nanti kiamat dan tetap berbentuk ruh yang berasal dari ruh Allah. Yang
dimaksud dengan cahaya adalah yang memancar terang serta tidak berwarna, yang
senantiasa menerangi hati penuh kewaspadaan yang selalu mawas diri atau
introspeksi mencari kekurangan diri sendiri serta mempersiapkan akhir kematian
nanti. Merasa sebagai anak Adam yang harus mempertanggungjawabkan segala
perbuatan. Ruh Idhafi sudah ada sebelum tercipta. Syirik itu dapat terjadi,
tergantung saat menerima sesuatu yang ada, itulah yang disebut Jauhar Ning.
keenamnya jauhar awal. Jauhar awal adalah mutiara ibaratnya. Mutiara yang indah
penghias raga agar nampak menarik. Mutiara akan tampak indah menawan. Bermula
dari ibarat ketujuh, dikala mendengarkan sabda Allah, maka Ruh Idhafi akan
menyesuaikan, yang terdapat di dalam Dzat Allah Yang Mutlak. Ruh serba psrah
kepada Dzatullah, itullah yang dimaksudkan Ruh Idhafi. Jauhar awal itu pula,
yang menimbulkan Shalat Daim. Shalat Daim tidak perlu mengunakan air wudhu,
untuk membersihkan khadas tidak disyaratkan. Itulah shalat batin yang
sebenarnya, diperbolehkan makan tidur syahwat maupun buang kotoran. Demikianlah
tadi cara shalat Daim. Perbuatan itu termasuk hal terpuji, yang sekaligus
merupakan perwujudan syukur kepada Allah. Jauhar tadi bersatu padu
menghilangkan sesuatu yang menutupi atau mempersulit mengetahui keberadaan
Allah Yang Terpilih. Adanya itu menujukkan adanya Allah, yang mustahil kalau
tidak berwujud sebelumnya.
Kehidupan itu seperti layar dengan wayangnya, sedang wayang itu tidak tahu
warna dirinya. Akibat junub sudah bersatu erat tetap bersih badan jisimmu.
Adapun Muhammad badan Allah. Nama Muhammad tidak pernah pisah dengan nama
Allah. Bukakah hidayah itu perlu diyakini? Sebagai pengganti Allah? Dapat pula
disebut utusan Allah. Nabi Muhammad juga termasuk badan mukmin atau orang yang
beriman. Ruh mukmin identik pula dengan Ruh Idhafi dalam keyakinanmu. Disebut
iman maksum, kalau sudah mendapat ketetapan sebagai panutan jati. Bukankah
demikian itu pengetahuanmu? Kalau tidak hidup begitu, berarti itu sama dengan
hewan yang tidak tahu adanya sesuatu di masa yang telah lewat. Kelak, karena
tidak mengetahui ke-Islaman, maka matinya tersesat, kufur serta kafir badannya.
Namun bagi yang telah mendapatkan pelajaran ini, segala permasalahan dipahami
lebih seksama baru dikerjakan, Allah itu tidak berjumlah tiga. Yang menjadi
suri tauladan adalah Nabi Muhammad. Bukankah sebenarnya orang kufur itu,
mengingkari empat masalah prinsip. Di antaranya bingung karena tiada pedoman
manusia yang dapat diteladani. Kekafiran mendekatkan pada kufur kafir. Fakhir
dekat dengan kafir. Sebabnya karena kafir itu, buta dan tuli tidak mengerti
tentang surga dan neraka. Fakhir tidak akan mendekatkan pada Tuhan. Tidak
mungkin terwujud pendekatan ini, tidak menyembah dan memuji, karena
kekafirannya. Seperti itulah kalau fakhir terhadap Dzatullah. Dan sesungguhnya
Gusti Allah, mematikan kefakhiran manusia, kepastiannya ada di tangan Allah
semata-mata. Adapun wujud Dzatullah itu, tidak ada satu makhluk pun yang
mengetahui kecuali Allah sendiri. Ruh Idhafi menimbulkan iman. Ruh Idhafi
berasal dari Allah Yang Maha Esa, itulah yang disebut iman tauhid. Meyakini
adanya Allah juga adanya Muhammad sebagai Rasulullah. Tauhid hidayah yang sudah
ada padamu, menyatu dengan Tuhan Yang Terpilih. Menyatu dengan Gusti Allah,
baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus menyatu bahwa Gusti Allah itu
ada dalam dirimu. Ruh Idhafi ada di dalam dirimu. Makrifat itu sebutannya.
Hidupnya disebut Syahadat, hidup tunggal didalam hidup. Sujud rukuk sebagai
penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan Pilihan. Penderitaan yang selalu
menyertai menjelang ajal tidak akan terjadi padamu, jangan takut menghadapi
sakaratil maut. Jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah.
Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat.
Ruh Idhafi tidak akan mati. Hidup mati, mati hidup. Akuilah sedalam-dalamnya
bahwa keberadaanmu itu, terjadi karena Allah itu hidup dan menghidupi dirimu,
dan menghidupi segala yang hidup. Sastra Alif (huruf alif) harus dimintakan
penjelasannya pada guru. Jabar jer-nya pun harus berani susah payah
mendalaminya. Terlebih lagi pengetahuan tentang kafir dan syirik! Sesungguhnya
semua itu, tidak dapat dijelaskan dengan tepat maksud sesungguhnya. Orang yang
menjelaskan syariat itu berarti sudah mendapatkan anugrah sifat Gusti Allah.
Sebagai sarana pengabdian hamba kepada Gusti Allah. Yang menjalankan shalat
sesungguhnya raga. Raga yang shalat itu terdorong oleh adanya iman yang hidup
pada diri orang yang menjalankannya. Seandainya nyawa tidak hidup, maka Lam
Tamsyur (maka tidak akan menolong) semua perbuatan yang dijalankan. Secara yang
tersurat, shalat itu adalah perbuatan dan kehendak orang yang menjalankan,
namun sebenarnya Allah-lah yang berkehendak atas hambanya. Itulah hakikat dari
Tuhan penciptanya. Ruh Idhafi berada di tangan orang mukmin. Semua ruh berada
di tangan-Nya. Yaitu terdapat pada Ruh Idhafi. Ruh Idhafi adalah sifat jamal
(sifat yang bagus atau indah) keindahan yang berasal Dzatullah. Ruh Idhafi nama
sebuah tingkatan (maqom), yang tersimpan pada diri utusan Allah (Rasulullah).
Syarat jisim lathif (jasad halus itu, harus tetap hidup dan tidak boleh mati.
Cahayanya berasal dari ruh itu, yang terus menerus meliputi jasad. Yang
mengisayaratkan sifat jalal (sifat yang perkasa) dan sekaligus mengisyaratkat
adanya sifat jamal (sifat keindahan). Jauhar awal mayit (mutiara awal kematian)
itu, memberi isyarat hilangnya diri ini. Setelah semua menemui kematian di
dunia, maka akan berganti hidup di akherat. Kurang lebih tiga hari perubahan
hidup itu pasti terjadi. Asal mula manusia terlahir, dari adanya Ayah, Ibu
serta Tuhan Yang Maha Pencipta. Satu kelahiran berasal dari tiga asal lahir.
Ya, itulah isyarat dari tiga hari. Setelah dititipkan selama tujuh hari, maka
dikembalikan kepada yang meninipkan (yang memberi amanat). Titipan itu harus
seperti sedia kala. Bukankah tauhid itu sebagai sarana untuk makrifat? Titipan
yang ketiga puluh hari, itu juga termasuk juga titipan, yang ada hanya
kemiripan dengan yang tujuh hari. Kalau menangis mengeluarkan air mata karena
menyesali sewaktu masih hidup. Seperti teringat semasa kehidupan itu berasal
dari Nur. Yang mana cahayanya mewujudkan dirimu. Hal itulah yang menimbulkan
kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan. Tak terkecuali siapun yang
merasakan itu semua, sebagaimana kamu mati, saya merasa kehilangan.
Mati atau hilang bertepatan hari kematian yang keempat puluh hari. Bagaimanakah
yang lebih tepat untuk melukiskan persamaan sesama makhluk hidup secara
keseluruhannya? Allah dan Muhammad semuannya berjumlah satu. Seratuspun dapat
dilukiskan seperti satu bentuk, seperti diibaratkan dengan adanya cahaya yang
bersember dari cahaya Muhammad yang sesungguhnya. Sama hal pada saat kamu
memohon sesuatu. Ruh jasad hilang di dalamnya, kehadirat Tuhan Yang Maha
Pemberi. Tepat pada hari keseribu, tidak ada yang tertinggal. Kembalinya pada
allah sudah dalam keaadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama dalam
keadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama diciptakan”.
Syekh Malaya terang hatinya, mendengarkan pelajaran yang baru diterima dari
gurunya Syekh Mahyuningrat Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya senang hatinya
sehingga beliu belum mau keluar dari dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir. Syekh
Malaya menghaturkan sembah, sambil berkata manis seperti gula madu. “Kalau
begitu hamba tidak mau keluar dari raga dalam tuan. Lebih nyaman di sini saja
yang bebas dari sengsara derita, tiada selera makan tidur, tidak merasa ngantuk
dan lapar, tidak harus bersusah payah dan bebas dari rasa pegal dan nyeri. Yang
terasa hanyalah rasa nikmat dan manfaat”. Kanjeng Nabi Khidir memperingatkan,
“yang demikian tidak boleh kalau tanpa kematian”.
Kanjeng
Nabi Khidir semakin iba kepada pemohon yang meruntuhkan hatinya. Kata Kanjeng
nabi Khidir, “kalau begitu yang awas sajalah terhadap hambatan upaya. Jangan
sampai kau kembali. Memohonlah yang benar dan waspada. Anggaplah kalau sudah
kau kuasai, jangan hanya digunakan dengan dasar bila ingat saja, karena hal itu
sebagai rahasia Allah. Tidak diperkenankan mengobrol kepada sesama manusia,
kalau tanpa seizin-Nya! Sekiranya akan ada yang mempersolakan, memperbincangkan
masalah ini! Jangan sampai terlanjur! Jangan sampai membanggakan diri! Jangan
peduli terhadap gangguan, cobaan hidup! Tapi justru terimalah dengan sabar!
Cobaan hidup yang menuju kematian, ditimbulkan akibat buah pikir. Bentuk yang
sebenarnya ialah tersimpan rapat di dalam jagadmu! Hidup tanpa ada yang
menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanya tentang adanya itu.
Bukankah sudah berada di tubuh? Sungguh, bersama lainnya selalu ada dengan kau!
Tak mungkin terpisahkan! Kemudian tidak pernah memberitahunakan darimana
asalnya dulu. Yang menyatu dalam gerak perputaran bawana. Bukankah berita
sebenarnya sudah ada padamu? Cara mendengarnya adalah denga ruh sejati, tidak
menggunakan telinga. Cara melatihnya, juga tanpa dengan mata. Adpun
telingannya, matanya yang diberikan oleh allah. Ada padamu itu. Secara batinnya
ada pada sukma itu sendiri. Memang demikianlah penerapannya. Ibarat seperti
batang pohon yang dibakar, pasti ada asap apinya, menyatu dengan batang
pohonnya. Ibarat air dengan alunnya. Seperti minyak dengan susu, tubuhnya
dikuasai gerak dan kata hati. Demikian pun dengan Hyang Sukma, sekiranya kita
mengetahui wajah hamba Tuhan dan sukma yang kita kehendaki ada, diberitahu akan
tempatnya seperti wayang ragamu itu. Karena datanglah segala gerak wayang.
Sedangkan panggungnya jagad. Bentuk wayang adalah sebagai bentuk badan atau
raga. Bergerak bila digerakkan. Segala-galanya tanpa kelihatan jelas, perbuatan
dengan ucapan. Yang berhak menentukan semuanya, tidak tampak wajahnya. Kehendak
justru tanpa wujud dalam bentuknya. Karena sudah ada pada dirimu. Permisalan
yang jelas ketika berhias.
Yang berkaca itu Hyang Sukma, adapun bayangan dalam kaca itu ialah dia yang
bernama manusia sesungguhnya, terbentuk di dalam kaca. Lebih besar lagi
pengetahuan tentang kematian ini dibandingkan dengan kesirnaan jagad raya,
karena lebih lembut seperti lembut nya air. Bukankah lebih lembut kematian
manusia ini? Artinya lembut kesirnaan manusia? Artinya lebih dari, karena
menentukan segalanya. Sekali lagi artinya lembut ialah sangat kecilnya. Dapat
mengenai yang kasar dan yang kecil. Mencakup semua yang merangkak, melata tiada
bedanya, benar-benar serba lebih. Lebih pula dalam menerima perintah dan tidak
boleh mengandalkan pada ajaran dan pengetahuan. Karena itu
bersungguh-sungguhlah menguasainya. Pahamilah liku-liku solah tingkah kehidupan
manusia! Ajaran itu sebagai ibarat benih sedangkan yang diajari ibarat lahan.
Misal kacang dan kedelai. Yang disebar di atas batu. Kalau batunya tanpa tanah
pada saat kehujanan dan kepanasan, pasti tidak tidak akan tumbuh. Tapi bila kau
bijaksana, melihatmu musnahkanlah pada matamu! Jadikanlah penglihatanmu sukma
dan rasa. Demikian pula wujudmu, suaramu. Serahkan kembali kepada yang Empunya
suara! Justru kau hanya mengakui saja sebagai pemiliknya. Sebenarnya hanya
mengatas namai saja. Maka dari itu kau jangan memiliki kebiasaan yang
menyimpang, kecuali hanya kepada Hyang Agung. Dengan demikian kau Hangraga
Sukma. Yaitu kata hatimu sudah bulat menyatu dengan kawula Gusti. Bicarakanlah
manurut pendapatmu! Bila pendapatmu benar-benar meyakinkan, bila masih
merasakan sakit dan was-was, berarti kejangkitan bimbang yang sebenarnya. Bila
sudah menyatu dalam satu wujud. Apa kata hatimu dan apa yang kau rasakan. Apa
yang kau pikir terwujud ada. Yang kau cita-citakan tercapai. Berarti sudah
benar untukmu. Sebagai upah atas kesanggupanmu sebagai khalifah di dunia. Bila
sudah memahami dan menguasai amalan dan ilmu ini, hendaknya semakin cermat dan
teliti atas berbagai masalah.
Masalah itu satu tempat dengan pengaruhnya. Sebagai ibaratnya sekejap pun tak
boleh lupa. Lahiriah kau landasilah dengan pengetahuan empat hal. Semuanya
tanggapilah secara sama. Sedangkan kelimanya adalah dapat tersimpan dengan
baik, berguna dimana saja! Artinya mati di dalam hidup. Atau sama dengan hidup
di dalam mati. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang
menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud.
Raga sukma, sukma muksa. Jelasnya mengalami kematian! Syekh Malaya, terimalah
hal ini sebagai ajaranku dengan senang hatimu! Anugrah berupa wahyu akan datang
kepadamu. Seperti bulan yang diterangi cahaya temaram. Bukankah turunnya wahyu
meninggalkan kotoran? Bersih bening, hilang kotorannya”.
Kemudian Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lembut dan tersenyum. “Tak ada yang
dituju, semua sudah tercakup haknya. Tidak ada yang diharapkan dengan
keprawiraan, kesaktian semuanya sudah berlalu. Toh semuanya itu alat
peperangan”. Habislah sudah wejangan Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya merasa
sungkan sekali di dalam hati. Mawas diri ke dalam dirinya sendiri. Kehendak
hati rasanya sudah mendapat petunjuk yang cukup. Rasa batinya menjelajah jagad
raya tanpa sayap. Keseluruh jagad raya, jasadnya sudah terkendali. Menguasai
hakekat semua ilmu. Misalnya bunga yang masih lama kuncup, sekarang sudah mekar
berkembang dan baunya semerbak mewangi. Karena sudah mendapat san Pancaretna,
kemudian Sunan Kalijaga disuruh keluar dari raga Kanjeng Nabi Khidir kembali ke
alamnya semula”.
Lalu Kanjeng Nabi Khidir berkata, “He, Malaya. Kau sudah diterima Hyang Sukma.
Berhasil menyebarkan aroma Kasturi yang sebenarnya. Dan rasa yang memanaskan
hatimu pun lenyap. Sudah menjelajahi seluruh permukaan bumi. Artinya godaan
hati ialah rasa qonaah yang semakin dimantapkan. Ibarat memakai pakaian sutra
yang indah. Selalu mawas diri. Semua tingkah laku yang halus. Diserapkan
kedalam jiwa, dirawat seperti emas. Dihiasi dengan keselamatan, dan dipajang
seperti permata, agar mengetahui akan kemauan berbagai tingkah laku manusia.
Perhaluslah budi pekertimu atau akhlak ini! Warna hati kita yang sedang mekar
baik, sering dinamakan Kasturi Jati. Sebagai pertanda bahwa kita tidak mudah
goyah, terhadap gerak-gerik, sikap hati yang ingin menggapai sesuatu tanpa
ilmu, ingin mendalami tentang ruh itu justru keliru. Lagi pula secara penataan,
kita itu ibaratnya busana yang dipakai sebagai kerudung. Sedangkan yang ikat
kepala sebagai sarungmu. Kemudian terlibat ingatan ketika dulu. Ibarat
mendalami mati ketika berada di dalam rongga ragaku.
Tampak oleh Sunan Kalijaga cahaya. Yang warnanya merah dan kuning itu, sebagai
hambatan yang menghadang agar gagal usaha atau ikhtiar atau cita-citanya. Dan
yang putih di tengah itulah yang sebenarnya harus diikuti. Kelimanya harus
tetap diwaspadai. Kuasailah seketika jangan sampai lupa! Bisa dipercaya
sifatnya. Berkat kesediaanku berbuat sebagai penyekat. Untuk alat pembebas
sifat berbangga diri. Yang selalu didambakan siang dan malam. Bukankah aku
banyak sekali melekat atau mengetahui caranya pemuka agama yang ternyata salah
dalam penafsiran. Dan penyampaian keterangannya? Anggapannya sudah benar. Tak
tahunya malah mematikan pengertian yang benar. Akibatnya terperosok dalam
penerapannya. Ada pemuka agama yang ibaratnya menjadi murung. Ia hanya sekedar
mencari tempat bertengger saja. Yaitu pada batang kayu yang baik rimbun, lebat
buahnya, kuat batangnya. Untuk kemuliaan hidup baru. Ada orang yang
berkedudukan, ada yang ikut orang kaya. Akhirnya di masyarakatkan. Ibaratnya
seperti sekedar memperoleh kemuliaan sepele. Jadinya tersesat-sesat. Ada pula
yang justru memiliki jalan terpaksa.
Menumpuk kekayaan harta dan istri banyak. Ada pula yang memilih jalan menguasai
putranya. Putra yang bakal menguasai hak asasi orang per orang. Semuanya ingin
mendapatkan yang serba lebih di dalam memiliki jalan mereka. Kalau demikian
halnya, menurut pendapatku, belumlah mereka disebut pemuka agama yang berserah
diri sepenuhnya kepada Allah, tapi masih berkeinginan pribadi atau berambisi.
Agar semua itu menjunjung harkat dan martabat. Tatanan yang tidak pasti, belum
bisa disebut manusia utama. Yang demikian itu menurut anggapannya dan
perasaannya mendapatkan kebahagiaan, kekayaan dan mengerti hak yang benar. Bila
kemudian tertimpa kedudukan, terlanjur terbiasa. Memilih jalan sembarang
tempat, tanpa mengahasilkan jerih payahnya dan tanpa hasil. Dalam arti
mengalami kegagalan total. Setidak-tidaknya menimbulkan kecurigaan. Apa
kebiasaan ketika hidup didunia. Ketika menghadapi datangnya maut, disitulah
biasanya tidak kuat menerima ajal. Merasa berat meninggalkan kehidupan dunia
yang tersangkal lagi. Pokoknya masih lekat sekali pada kehidupan duniawi.
Begitulah beratnya amencari kemuliaan. Tidak boleh lagi merasa terlekat kepada
anak-istri. Pada saat-saat menghadap ajatnya. Bila salah menjawab pertanyaannya
bumi, lebih baik jangan jadi manusia! Kalau matinya tanpa pertanggungjawaban.
Bila kau sudah merasa hatimu benar. Akan hidup abadi tanpa hisab. Akibatnya,
tubuh bumi itu keterdiamannya tidak membantu. Kesepiannya tidak mencair. Tidak
mempedulikan pembicaraan orang lain yang ditujukan kepadanya. Yaitu bagaimana
hilang dan mati bersama raganya ialah diidamkannya. Sehingga mempertinggi
semedinya, untuk mengejar keberhasilan. Tapi sayang tanpa petunjuk Allah,
apalagi hanya semedi semata. Tidak disertai dukungan ilmu.
MENCAPAI DERAJAT INSAN KAMIL (Tamat)
Akibatnya hasilnya kosong melompong.
Karena hanya mengandalkan pikirnya. Ini berarti belum mendapat tata cara hidup
yang benar hakiki yang seperti ini adalah idaman yang sia-sia. Bertapanya
sampai kurus kering, karena sedemikian rupa caranya menggapai kematian.
Akhirnya meninggalnya tanpa ketentuan yang benar. Karena terlalu serius, adapun
cara yang benar adalah tapa itu hanya sebagai ragi atau pemantap pendapat.
Sedangkan ilmu itu sebagai pendukung. Tapa tanpa ilmu tidak akan berhasil. Bila
ilmu tanpa tapa, rasanya hambar tidak akan memberi hasil. Berhasil atau
tidaknya tergantung pada penerapannya. Dicegah hambatannya yang besar, sabar
dan tawakal. Bukankah banyak agamawan palsu. Ajarannya setengah-setengah.
Kepada sahabatnya merasa pintar sendiri. Yang tersimpan dihati, segera
dilontarkan segala uneg-unegnya. Disampaikan kepada gurunya. Penyampaiannya
hanya berdasarkan pikiran belaka.
Dahulunya belum mendapatkan pelajaran. Sampai tobatnya tidak merasa enak kalau
menyanggah. Lalu ikut-ikutan mendengarkan. Dengan menamakan rohaniwan yang
terbesar. Dianggapnya sudah pasti pendapatnya benar. Pendapatnya atau ilmunya
adalah wahyunya itu anugrah yang khusus diberikan pribadi. Akhirnya sahabatnya
diaku sebagai anak. Ditekan-tekankan tuntutan besar berupa ikatan batin. Oleh
guru bila sudah akan mejang atau menyampaikan ajaran, duduk merasa sering
berdekatan. Sehingga sahabat dikuasai oleh guru, dan sang guru menjadi sahabat
batin. Luansnya tanggapan bahwa segalanya merupakan merupakan wahyu Allah.
Kebaikannya, keduannya antara guru dan sahabat saling memahami. Kalau seorang
diantara mereka dianggap sebagai orang yang berilmu. Harus ditaati segala
apapun yang diucapkan itu. Misalnya berjalan juga harus disembah biasanya
bertempat di pucuk-pucuk gunung.
Pengaruh ajarannya sangat mengundang perhatian menemui perguruannya. Bila ada
yang berguru atau menghadap, nasihatnya macam-macam dan banyak sekali. Seperti
gong besar yang dipukul. Bukankah ajarannya yang dibeber tidak bermutu atau
berbobot. Akibatnya rugilah mereka yang berguru? Janganlah seperti itu orang
hidup. Anggaplah ragamu sebagai wayang. Digerakkan ditempatnya. Terangnya
blencong itu ibarat panggung kehidupanmu. Lampunya bulan purnama, layar ibarat
alam jagad raya yang sepi kosong. Yang selalu menunggu-nunggu buah pikir atau
kreasi manusia. Batang pisang ibarat bumi tempat bermukim manusia. Hidupnya
ditunjang oleh yang nanggap. Penanggapnya ada di dalam rumah, istana. Tidak
diganggu oleh siapun. Boleh berbuat menurut kehendaknya. Hyang Permana
dalangnya. Wayang pelakunya. Adakalanya digerakkan ke utara oleh sutradara.
Bila semuanya digerakkan berjalan. Semua ada di tangan dalang. Dialognya
menyampaikan pesan juga. Bila bercakap lisannya itu menyampaikan berbagai
nasihat, menurut kehendaknya. Penonton dibuat terpesona, diarahkan melekat pada
dalang. Adapun yang nanggap itu selamanya tidak akan tahu. Karena ia tanpa
bentuk dan ia berada di dalam puri atau rumah atau istana. Ia tanpa warna
itulah dia Hyang Sukma. Cara Hyang Permana mendalang, mempercakapkan tanpa dirimu.
Tanpa membedakan sesama titah. Di samping itu, bukankah dia tidak terlibat
sebagai pelaku? Misalnya berada dalam tubuhmu? Atau ibarat minyak di dalam
susu? Atau api dalam kayu?.
Berhasrat sekali karena belum diberi petunjuk sehingga menggelar doa di kayu,
dakon dan gesekan. Dengan beralatkan sesama batang pohon. Gesekan itu
disebabkan oleh angin. Hangusnya kayu, keluarlah kukunya. Tak lama kemudian
apinya. Api dan asapnya keluar dari kayu itu. Bermula dari ingat pada saat awal
mulanya. Semua yang tergelar ini berasal dari tiada. Manusia diciptakan lebih
dari makhluk yang lain. Bukankah itu yang disebut rahasia atau rahsa? Manusia
itu tidak paling mulia daripada ciptaan yang lain. Maka dari itu janganlah
mudah terpengaruh oleh buah pikirmu yang bulat. Bulat atas segala gerak dan
kehendak. Adapun isi jagad itu jangan mengira hanya manusia saja, tapi berisi
segala macam titah. Hanya saja manusia itu satu. Penguasanya satu. Yang
menghidupi jagad seisinya. Demikianlah tekad yang sempurna. Hei Syekh Malaya segeralah
menyudahi! Kembalilah kau ke pulau Jawa! Bukankah sebenarnya kau mencari dirimu
juga?.
Syekh Malaya bergegas. Bersembah dan berkata dengan berbelas kasih untuk
memenuhinya, yang disebut Kalingga Murda,”Hamba setia dan taat”. Kanjeng Nabi
Khidir lalu musnah dan lenyap. Syekh malaya tampak berdoa di samudera. Tapi
tidak tersentuh air.
Syekh Malaya sangat berjanji dalam hati atas peringatan atau ajaran sang guru
yang sempurna. Bukankah ia masih sangat ingat? Hasrat hati yang telah memiliki
atau mengetahui ilmu kawekas. Isinya jagad telah terkuasai dalam hati, merasa
mantap dan disimpan dalam ingatan. Sehingga serba mengetahui dan tak akan
keliru lagi. Diresapi dalam jiwa dan dijunjung sampai mati. Ia telah lulus dari
sumber aroma kasturi yang sebenarnya. Sehingga sifat panasnya hati lenyap.
Sesudah itu Syekh Malaya kondur (pulang). Hatinya sudah tidak goyah lagi karena
segala ajaran itu tampak jelas dalam hati. Ia tidak salah lagi melihat dirinya
siapa sebenarnya. Penjelmaan jiwanya menyatu dalam satu wujud. Walau secara
lahiriah dirahasiakan. Norma atau prilaku tata cara jiwa kesatria, berhasil
dikuasai. Bukankah ia sudah menggunakan mata batinnya yang tajam atau peka?
Ibarat hewan dengan bebannya! Sudah tak ada atau terjadi, kematian dalam
kehidupan. Setelah bagaimana ia menerima ajaran gurunya. Sama sekali tidak
diragukan lagi. Seluruh ajaran gurunya sudah tamat dan di kuasai dengan
tersimpan dalam hati, serta diimankan dengan cermat. Mematuhi semua ajaran
guru. Perbuatan, pikiran dan rasa bukankah diuji dalam hati yang suci dan
bening? Benar-benar terasa sebagai anugrah Tuhan.
Sesungguhnya sang guru benar-benar sudah hilang raganya, sudah tidak ada. Akan
tetapi selalu terbayang dalam hatinya. Dan sudah ditetapkan sebagai kekasihnya.
Adapun segala ketercelaan hati sudah lenyap. Rasanya tenanglah dunia dan
akhirat. Karena kebersihan dan kesucian jiwa sudah diketemukan. Sukma suci
dalam segala tingkah lakunya itu memahami sepaham-pahamnya.
Bukankah sudah memahami lewat petunjuk? Sehingga tidak takut akan kematian yang
sering timbul dalam buah pikiran? Ia sudah mengharapkan bahwa raganya akan
ikhlas kalau kematian yang mulia. Yang diridhai oleh Tuhan atau Sang Hyang
Widi. Namun sebenarnya tidak ada tanggapan perasaan. Yaitu rasa seperti itu.
Tiadanya pandang atau wawasan seperti itu. Bukankah sudah lenyap semuanya.
Tinggal jiwa suci yang terpuji mulia? Mulia seperti zaman dahulu atau awalnya.
Tidak meragukan kematian yang sebenarnya. Yang menjemput maut setiap saat.
Tidak merasakan akan kematiannya. Toh yang rusak itu nafsu dan badan, jiwa
hidup abadi dan aman sejahtera. Senang, mulia dan merdeka, semuanya itu sudah
diterapkan dalam hati. Sehingga berpegang pada kuasa-Nya. Sudah mengetahui akan
makna kematian yang sebenarnya, ia tidak merasa takut kapanpun maut menjemput.
Yang sempurna ialah sudah aman, sejahtera, mulia, itulah makna yang sempurna.
Yaitu tidak meninggalkan hak-Nya. Ketujuh alam sudah lenyap. Bukankah lenyapnya
alam ini sudah jelas? Kini yang lain ibarat kau sajalah!
Penguasa alam bukankah sudah kita ketahui? Yang bernama Abirawa yang artinya
beerkuasa dan berkehendak. Adapun alam yang keenam artinya ialah yang telah
lenyap : timur, barat, utara, selatan, atas, bawah serta kayu dan batu dan diri
sendiri. Bila kita telah mati yang ada hanya kosong dan sepi. Yang terdengar
hanya deru angin, debur air dan kobaran api di alam dahana. Matahari, bulan,
bukankah termasuk alam juga? Dua puluh tiga alam yang serba nafsu itu, semuanya
habis belaka. Walaupun bukankah sama dahulunya?.
Syekh Malaya sudah memahami hal itu semua? Kalau itu semua adalah alam serba
nafsu. Dan alam yang sebenar-benarnya sudah jelas yaitu penguasa alam semua.
Sedang penyelarasnya hanyalah alam anbiyak ini. Alam anbiyak itu baunya harum
dan mewangi. Tapi bukan pribadi majazi. Yang hakiki yang menyelaraskan alam.
Menjadi terang dan mulia semua.
Dan alam berarti itu ialah tempat jiwa suci, terang, bersih. Itulah alam
malakut. Artinya ialah sudah tiba menjelang alam kemuliaan. Ibarat ruangan,
sekat sebagai pemisah. Adapun alam anbiyak ialah alam mulia yang masih akan
digapai. Sifat hidup itulah kehidupannya. Tentang mana mirah mana intan. Sudah
jelas nilai dari Kumala Adi. Yaitu sebagus-bagusnya warna dari intan itu
sendiri. Lenyapnya bukankah sama dengan lainnya? Itulah alam anbiya.
Tamat













