Sabtu, 11 November 2017

Panjat Pinang, Pelecehan Pada Pribumi Yang Di Lestarikan


Lomba Panjat Pinang Di Desa Banjarjo Untuk Memeriahkan HUT Kemerdekaan Indonesia Ke 72
Dipilihlah sebatang pohon pinang yang lurus dan tinggi. Kemudian dilumuri dengan oli bekas yang sudah disiapkan oleh panitia perlombaan, jika tidak ada pohon pinang kadang diganti dengan batang bambu yang besar dan lurus. Di bagian atas batang pinang itu dibuatkan lingkaran dari bambu tempat berbagai hadiah untuk diperebutkan. Para peserta berlomba-lomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon.

Batang pohon pinang lurus itu licin karena telah diberi pelumas, para peserta panjat pinang sering kali jatuh dan terus mengulangi menaiki sampai berhasil meraih hadiah di atas. Kreativitas dan kerja sama para peserta sangat diperlukan agar bisa memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton. Hadiah tersebut kemudian dibagikan kepada para peserta masing masing.

Lomba Panjat pinang sudah lama ada sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu. Lomba panjat pinang diadakan oleh orang-orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain sebagainya. Namun yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi yang menjadi peserta dalam panjat pinang tersebut. Berbagai hadiah pun sudah disiapkan yang nantinya akan diperebutkan oleh peserta panjat pinang.

Hadiah biasanya berupa bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena di kalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah kala itu. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, orang-orang Belanda hanya menonton sambil tertawa terbahak-bahak melihat perjuangan kaum pribumi yang ikut panjat pinang. Intinya, panjat pinang ini dianggap sebagai hiburan sekaligus lelucon bagi orang-orang Belanda pada waktu itu. Bahkan peraturan panjat pinang ini tidak berubah dari dulu hingga sekarang.

Coba anda bayangkan kondisi pada masa penjajahan dulu, ketika warga negara Indonesia bersusah payah dengan berlumuran keringat, para Penjajah Belanda dan keluarganya tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Bangsa Indonesia. Dan mungkin saat ini, ketika perayaan 17 Agustus, mereka masih tertawa terbahak bahak, menyaksikan bahwa budaya yang mereka buat dengan tujuan melecehkan Bangsa Indonesia, ternyata justru di lestarikan dan dijadikan sebagai tradisi.

Saat ini bentuk permainan panjat pinang masih bertahan hingga sekarang, ada pihak yang tidak mempermasalahkan sejarah permainan ini, tapi ada juga yang tidak setuju dengan budaya ini. Jika sejarah panjat pinang begitu menyakitkan mengapa harus di lestarikan. Yang pasti ada beberapa kontroversi seputar perlombaan panjat pinang ini.

Perlombaan panjat pinang oleh sebagian warga Indonesia percaya itu adalah tantangan pendidikan yang mengajarkan orang untuk bekerja sama dan bekerja keras dalam mencapai tujuan mereka. Sebagian yang lain mengatakan panjat pinang merupakan tampilan merendahkan yang mengirimkan salah jenis pesan untuk pemuda Indonesia. Apapun kontroversi yang ada pada perlombaan panjat pinang selalu menjadi tradisi yang unik di negara Indonesia.




Kohar Malowopati di kutip dari : http://www.marneskliker.com
Lokasi: Banjarjo, Padangan, Bojonegoro Regency, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar